2013/01/19

RUMAH SAKIT MODERN GUANGZHOU






“Berapa biaya yang harus disiapkan ?” itu adalah salah satu butir pertanyaan saya waktu konsultasi dengan dokter yang ada di kantor perwakilan rumah sakit Guangzhou di Jakarta. “Kira-kira biaya pengobatan di rumah sakit ditambah biaya tiket pulang pergi 100 juta rupiah “ kata pegawai yang bernama Mindy menerjemahkan keterangan sang dokter. Saya mencoba melirik isteri saya yang duduk bersebelahan. Dalam fikiran saya kalau 100 juta masih mungkinlah karena hasil penjualan mobil Kijang LX kami beberapa minggu yang lalu masih utuh di buku tabungan BNI sekitar  130 juta. “Saya fikir-fikir dulu pak” kata saya melalui mbak Mindy.
Kami meninggalkan ruang konsultasi dokter menuju  ruang tamu yang terletak di bagian depan dan mencoba menggali informasi lebih jauh khususnya soal biaya dari pegawai-pegawai yang ada disitu. Ternyata ancer-ancer biaya rumah sakit kira-kira 80 juta, harga tiket sekitar 10,963 juta pp untuk 2 orang kalau naik Garuda sedang kalau naik Batavia air kira-kira 7,96 juta saja. Belum termasuk ongkos visa yang 540 ribu perorang kalau pengurusan 4 hari sebelumnya, kalau 2 hari sebelumnya 900 ribu dan kalau sehari sebelumnya dikenakan biaya 1,1 juta. “ Kami akan memberi kabar secepatnya apakah jadi atau tidak “ kata saya mengakhiri pertemuan  hari itu. “Jangan lupa dibawa  paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan , fotocopy kartu keluarga 1 lembar, KTP yang masih berlaku beserta fotocopy juga 1 lembar, foto ukuran 4x6 cm latar belakang harus putih tanpa peci atau topi bagi bapak, dan bagi ibu boleh memakai kudung ,masing-masing 2 lembar.

Naik busway di Jakarta pada jam-jam sibuk merupakan siksaan tersendiri, apalagi bagi isteri saya yang berada dalam kondisi sakit dan tidak fit. Belum lagi antrian panjang dan berjubel yang mewarnai setiap pemberhentian. Tetapi syukurlah walaupun penumpang lain harus berdiri dalam bus namun isteri saya selalu saja tidak harus berdiri karena masih ada juga anak muda, utamanya gadis-gadis yang rela memberikan tempat duduknya karena kasihan. Perjalanan pulang  dari Slipi ke kawasan Pulogadung cukup melelahkan dimulai jalan kaki sekitar 300 meter dari tempat konsultasi, menaiki tangga yang cukup tinggi kemudian menurun ke pemberhentian busway. Naik bus kemudian turun di pemberhentian Glodok 2, menaiki tangga yang cukup tinggi lagi dan harus berjalan jauh lewat jembatan melintasi persimpangan jalan raya yang terletak dibawah menuju ke pemberhentian Glodok 1 , antri sekitar 1 jam lebih kemudian naik bus lagi menuju Harmoni, di halte Harmoni antri lagi  lebih dari 1 jam selanjutnya naik bus menuju terminal Pulogadung. Ditengah hiruk pikuk terminal Pulogadung harus berjalan lagi menuju mikrolet no.23 yang route Pulogadung Kali Malang turun di jalan KR Rajiman persis dibawah bentangan kabel sutet, dan setelah membeli makanan di warteg  naik ojek menuju rumah di Kawasan Jatinegara Indah dengan ongkos 5000 rupiah perorang. Yah  cukup melelahkan utamanya bagi orang dalam kondisi sakit.
“Bagaimana pendapatmu tentang hasil kosultasi tadi “ kataku membuka percakapan setelah shalat dan makan siang. “ Kita saja “ kata isteriku yang maksudnya terserah pendapat saya saja. Kata kita biasanya dipakai oleh orang Bugis Makassar sebagai pengganti kata kamu  untuk orang yang dituakan atau dihormati.”Menurut saya lebih baik kita ke Guangzhou saja” kata saya apalagi membayangkan kata-kata dokter Ramadhan di rumah sakit Dharmais yang sangat menusuk hati, ”Pulang saja ke Makassar, berobat saja disana, sama saja kalau disini apalagi dalam kondisi yang sudah stadium 4 seperti ini”. Hati saya merintih melihat sikap dokter yang katanya  sudah senior, apakah tidak ada cara lain lagi yang dapat dilakukan oleh seorang dokter dihadapan pasien dengan keadaan seperti ini, walaupun hanya sekedar menghibur saja. Isteri saya masih ingin meminta kesediaan dokter tersebut lebih lanjut tapi saya segera menutup pembicaraan dengan meminta izin untuk meninggalkan ruang pemeriksaan itu. Hati saya merintih kembali setiap mengenang pertemuan dengan dokter Ramadhan itu rasa kasihan sekali kepada isteri saya, walaupun saya bisa memahami maksudnya bahwa kalau menjalalani kemoterapi di Jakarta lebih repot dibanding kalau menjalani kemoterapi di Makassar  apalagi obat dan perlakuannya sama saja. Tetapi sekali lagi apakah tidak ada cara lain menyampaikannya selain buru-buru mengusir seorang pasien dari hadapan dokter yang terhormat itu. “Lebih baik kita bicara dulu dengan si Fadli mengenai hal ini” kataku mengingat anak kami yang tertua yang mungkin bisa didengar pertimbangannya”.
Saya segera mengirim SMS kepada si Fadli agar segera menelpon karena ibunya mau bicara dan tidak lama kemudian telpon dari Oman sudah bordering.   “Assalamu alaikum bagaimana kabar ? “ terdengar suara dari ujung  telpon. Secara singkat saya ceritakan masalah yang dihadapi sehubungan dengan pengobatan ibunya dan kemungkinan harus ke  Guangzhou yang membutuhkan biaya besar. “Tidak usah fikir soal biaya, Insya Allah saya akan membantu” kembali balasan dari balik telpon.”Syukurlah kalau begitu” kataku menutup pembicaraan.
Singkat cerita, esoknya kami kembali ke Makassar dan selanjutnya ke Barru nengurus segala sesuatu untuk persiapan berangkat ke Guangzhou. Alhamdulillah semua urusan berjalan lancar tidak ada kendala yang berarti sehingga selanjutnya kami dapat segera ke Jakarta dengan Lion air.
Tanggal 8 desember 2011 jam 4.00 subuh taksi blue bird yang dipesan telah stand by di depan rumah di Jatinegara Indah., taksi ini dipesan lewat telpon saja. Rupanya nomor hp ku sudah terekam sebagai pelanggan sehingga setiap memesan taksi blue bird, petugas menanyakan nomor hp maka petugas jaga itu langsung menyebut nama dan alamat dan segera merespon pesanan taksi itu.
Tidak ada kesulitan yang berarti dalam cek in dan pengurusan imigrasi karena semua sudah dipersiapkan sesuai informasi yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Pesawat Batavia air mengudara sekitar lima jam dari Cengkareng menuju Guangzhou dan mendarat dengan mulus di landasan bandara  Baiyun
Udara musim gugur cukup dingin bagi kebanyakan orang Indonesia sehingga mengharuskan untuk memakai jaket yang cukup tebal. Setiba di bandara langsung berjalan menuju petugas Imigrasi yang sudah menanti. Kira-kira ada sekitar delapan loket yang dibuka untuk pendatang dan lima loket untuk warga Negara cina sendiri. Kelihatan arus orang masuk ke Cina lewat Guangzhou cukup ramai terbukti dengan antrian yang cukup lama untuk bisa keluar dari pemeriksaan Imigrasi. Selanjutnya menuju tempat pengambilan bagasi dan seterusnya menuju pintu ke luar. Di pintu keluar sudah menunggu petugas dari RS Modern Guangzhou dengan mengacung-acungkan kertas yang berisi nama isteri saya. Rupanya sudah ada informasi dari perwakilan di Jakarta tentang kedatangan kami sehingga tidak ada kesulitan sama sekali karena sudah tersedia mobil yang akan membawa ke Rumah sakit. Rupanya bukan kami saja yang di jemput,  ada beberapa pasien lain dari Indonesia yang menumpang Batavia air maupun Garuda Indonesia.
Setiba di rumaah sakit bagi pasien pemula akan langsung diarahkan ke pendaftaran pasien internasional dan segera ditempatkan di kamar sesuai pilihan, apakah kamar biasa atau kamar VIP.
Ada 2 macam kamar yang bisa dipilih, kamar biasa atau kamar VIP. Kamar biasa di dilengkapi dengan fasilitas 2 tempat tidur, kulkas, dispencer, televisi dengan remotenya, kursi 1 buah, lemari, brankas, kamar mandi yang punya bak mandi, kloset duduk, cerek listrik, dan  wastafel lengkap dengan cermin.
Tidak lama setelah tiba di kamar rumah sakit maka saya selaku pengantar dimintai informasi tentang penyakit isteri, mulai dari awal ketika dirasakannya penyakit, tindakan-tindakan apa saja yang sudah dilakukan dalam pengobatan penyakit itu. Saya menceritakan kronologi dari penyakit ibu mulai dari adanya benjolan kecil di payudara kiri dengan rasa sedikit nyeri, lalu dibiopsi oleh Dr Randanan seorang ahli kandungan dan ahli kanker yang berpraktek di jalan Mappanyukki kota Makassar dan diambil kesimpulan dugaan adanya kanker, selanjutnya dokter di poli perjanjian RS Wahidin Sudorohusodo Makassar memberi pengantar untuk memeriksa lebih teliti sampel di Laboratorium bagian Patologi Unhas yang selanjutnya menyimpulkan bahwa memang kanker sudah bersarang di Payudara isteri saya.
“Apa nama jenis kanker sesuai pemeriksaan laboratorium ketika itu ?” Tanya penerjamah kepada saya sesuai permintaan dokter yang mengobservasi. Cukup kalang kabut saya karena informasi yang dia minta tidak dapat saya berikan. “ Nanti saya coba cari informasi dari Indonesia tentang hal itu “ kata saya.  Lalu dia minta semua dokumen-dokumen hasil pengobatan ibu yang saya bawa termasuk hasil foto thorax , hasil USG , hasil CT Scan , kartu protrokol kemo , Hasil-hasil pemeriksaan laboratorium dll.
“ Kami akan melakukan segera pemeriksaan ulang, mulai dari ct scan , USG dan pemeriksaan lain kepada isteri anda sebagai langkah awal” kata dokter Cina itu yang diterjemahkan oleh sang penerjamah.    
Rumah sakit modern Guangzhou  beralamat di 42  Lianquan Road kotak pos 510500,Tianhe District kota Guangzhou, sebenarnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah sakit yang ada di Indonesia seperti misalnya rumah sakit Wahidin Sudirohusodo di Makassar atau rumah sakit Dharmais Jakarta. Gedung rumah sakit ini berdiri di atas tanah yang luasnya hanya kurang lebih 1 ha dengan bangunan berlantai 9  yang berbentuk huruf V, salah satu  kaki huruf V itu berdiri dari utara ke selatan sejajar dengan Lianquan road, tanpa halaman depan,  karena teras rumah sakit dimana terletak 2 buah pintu masuk terbuat dari kaca dan selalu terbuka dan tertutup secara otomatis hanya berjarak kira-kira 5 meter dari pinggir jalan. Pantat huruf V terletak di bagian selatan  agak lebar dengan kira-kira 20 meter, kemudian disambung dengan kaki  yang satu lagi  membujur berbatasan dengan sebuah SPBU Militer dibelakangnya. Rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit yang menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia yang ingin berobat ke China terbukti dengan banyaknya pasien yang berasal dari Indonesia. “Empat tingkat di rumah sakit ini yaitu tingkat 3 , 6 , 7 dan 8 rata-rata dihuni oleh pasien-pasien Indonesia “ kata salah seorang petugas penerjemah yang mengantar kami, kelak kami tahu dari hasil informasi bahwa kebanyakan yang berobat ke rumah sakit ini merupakan pasien-pasien kanker  yang sudah divonis kanker dengan stadium lanjut ( 3 dan 4 ). Beberapa diantara mereka juga sudah pernah berobat ke Singapura atau Malaysia selain di tanah air. Contohnya seorang ibu dari Yogya yang sempat ketemu di dapur menceritakan bahwa suaminya yang menderita kanker lidah telah berobat di Yogya, Jakarta, Singapura dan Penang Malaysia. Semua dokter di rumah sakit-rumah sakit tersebut  sepertinya sepakat bahwa pasien ini harus dioperasi dengan resiko bahwa lidahnya harus dipotong, mulut akan kaku dan sehari-hari harus makan dengan makanan yang langsung dimasukkan ke kerongkongan.”Bayangkan saja pak harus seumur hidup menderita seperti itu, suami saya menolak dan kami mencoba berkonsultasi ke rumah sakit ini dan ternyata dokter disini menyanggupi untuk tidak mengoperasi” katanya dengan nada yang sangat optimis. Walaupun belakangan pada pertemuan kami yang terakhir di dapur, beliau kembali lesu dan tak menjawab ketika ditanyakan kemajuan pengobatan suaminya. Menurut informasi bahwa rumah sakit inipun menyarankan untuk operasi lidah. Bagaimana perkembangan selanjutnya? Kami tidak tahu lagi karena kami tidak mampu lagi untuk kembali ke Guangzhou keempat kalinya karena alasan biaya.
 Kedatangan pertama kali cukup lancar, kami dibawa dan ditempatkan di kamar 833 terletak di lantai delapan kemudian disodori daftar menu makanan yang bisa dipesan lewat kantin. Informasi tentang bagaimana makanan selama tinggal di rumah sakit ini  kami sudah dapatkan dari petugas perwakilan rumah sakit ini di Jakarta.” Makanan untuk pasien dan penjaganya tidak disediakan di rumah sakit  tetapi bapak bisa memesan makanan lewat petugas kantin atau memasak sendiri” masih terngiang keterangan petugas di perwakilan itu.” Apa yang dipesan pak ? “ Tanya petugas kantin memecah kesunyian. Saya berpaling kepada isteriku yang turut mengamati nama-nama makanan yang disertai gambarnya yang tertulis di daftar menu. Kami berhati-hati sekali karena sebagai seorang muslim tentu banyak makanan yang tidak halal untuk dimakan. Akhirnya kami sepakat untuk memesan nasi putih 2 piring, ikan  masak satu ekor yang sedang besarnya  dan sepiring sayur brokoli. Kami tidak persoalkan lagi bahwa semua makanan itu dimasak dikuali atau periuk yang tentu saja pernah dipakai untuk memasak makanan yang tidak halal yah anggap saja situasinyadarurat. Hari-hari berikutnya soal makanan tidaklah merupakan masalah yang besar karena diseberang jalan ternyata terdapat pasar yang menjual segala macam keperluan dapur mulai dari beras, sayur-sayuran segar, ikan laut dan ikan tawar, bumbu dapur, buah-buahan dan segala macam kebutuhan dengan harga yang tidak jauh berbeda dengan Indionesia.
Pelayanan kesehatan di rumah sakit ini standarnya sama dengan rumah sakit di Indonesia dimana  seorang pasien dipertanggung jawabkan oleh seorang suster, seofrang dokter umum dan seorang dokter spesialis. Setiap hari mulai dari pagi-pagi sekali pasien sudah dilayani oleh suster jaga utnuk mengukur tensi, suhu, suntikan atau kegiatan lain sesuai sesuai kebutuhan pasien. Kunjungan setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu oleh oleh suster secara berkelompok, tidak lama ada lagi  kunjungan dokter secara berkelompok pula. Khusus pada hari Sabtu dan Minggu kunjungan hanya dilakukan oleh dokte Penanggung Jawab ditemani oleh seorang suster dan penerjamah. Pada setiap kunjungan dokter selalu ditanyakan apa saja keluhan pasien, apa yang dirasakan dan selalu memeriksa secara teliti keadaan sang pasien. Setiap hari tak lupa diberikan kuitansi tagihan yang harus dibayar untuk hari sebelumnya.
Pembayaran di rumah sakit ini ditagih setiap hari dan diberi waktu tak lebih dari 2 hari untuk membayarnya. Peraturan pembayaran ditegakkan secara ketat dan terkesan tanpa perikemanusiaan. Seorang penjaga pasien pernah menceriterakan betapa dia terkesan bahwa rumah sakit terlalu kejam. “Bayangkan bu “ katanya kepada isteri saya, “ Ketika adik saya habis di kemoterapi dan ternyata pembayarannya melebihi persediaan uang yang dibawa maka pihak rumah sakit seperti memaksa kami i mencari uang dan segera membayarnya” Ia lalu menceriterakan bagaimana ia kelabakan untuk mendapatkan uang sekitar 20 juta rupiah, mau minta dikirimi dari Indonesia, hari itu hari Sabtu dimana tidak ada bank yang terbuka. “Tapi sebelum pengobatan kan sudah dikonsultasikan tentang biaya yang harus disiapkan ?” kataku menimpali.” Memang pak, tapi kan kami sudah terlanjur ada disini dengan dana yang diperkirakan cukup sesuai informasi yang kami peroleh di Jakarta, tetapi nyatanya tidak cukup “ katanya seakan mengeluh. Adiknya yang merupakan pasien duduk lemas tak bertenaga disisinya.”Jadi bagaimana jalan keluarnya” tanyaku ingin tahu. Lalu ia menceriterakan bahwa untung ada seorang dokter di rumah sakit itu yang percaya dan bersedia menjamin sehingga pengobatan itu bisa dilanjutkan. “Kami kesini juga pas-pasan dananya, kami kesini setelah menjual mobil Kijang dan ada anak yang mau membantu membiayai pengobatan ini” kata isteriku. Lalu dengan bangga isteriku menceriterakan bahwa anaknya ada dua orang semua di luar negeri satu bekerja di perusahaan minyak  Oman dan yang satunya lagi seorang dosen PNS yang mendapat bea siswa Muoumombusho ke Jepang.”Tetapi yang di Oman itu yang mengirim uang karena gajinya gede’ kalau yang PNS yah tidak bisa karena gaji dan bea siswanya terbatas” kata isteriku menambahkan. “ Tetapi yang di Jepang itu sudah berusaha membesuk ibunya ketika di rawat pertama kali di rumah sakit Guangzou dan dia juga sudah membelikan tiket pulang pergi Ujung Pandang-Matsuyama untuk kami berdua di bulan Maret yang akan datang sepulang dari Cina“ tambahku. Memang isteriku ini sangatlah bersemangat kalau berbicara menyangkut anak-anaknya.  Dari pembicaraan selanjutnya kami dapat mengetahui bahwa rupanya gadis itu ditugasi mengantar adiknya berobat dan dia juga seorang pegawai bank Swasta di Jakarta, dia telah tiga minggu izin dari kantornya dan harus segera kembali bekerja.
Pengobatan pada kedatangan pertama berupa Jero yakni pengobatan yang dilakukan dengan memasukkan obat pada urat darah yang terletak di bagian lipatan paha dan bagian itu ditindis dengan benda berbentuk kantong pasir yang beratnya kira-kira dua kg. Selanjutnya dimasukkan cairan obat kemo selama tiga hari berturut-turut melalui pembuluh darah di bagian tangan. Saya merasa kasihan kepada isteri kalau akan ditusuk jarum karena susah sekali mencari urat darah yang utuh lagi. Hampir seluruh urat darah yang ada di tangan sudah pernah ditusuk jarum ketika menjalani kemoterapi di Makassar. Pengobatan juga dilakukan dengan menanam 30 puluh partikel radio aktif di bagian leher untuk menghilangkan tumor berupa benjolan yang ada disitu. Pemasangan partikel ini dilakukan di sebuah ruang khusus dimana setiap orang yang masuk kesitu harus memakai pakaian khusus pula yang menyerupai pakaian astronaut kalau masuk kesitu. Total biaya yang dikeluarkan meliputi biaya menginap selama 21 hari, harga obat,  harga tiket untuk dua orang pp, biaya jero dan kemo (lebih dari 20 juta ) , biaya pemasangan partikel ( 30 iuta ) dan ongkos kebutuhan sehari-hari pada kedatangan pertama ini yang kalau dijumlahkan semuanya lebih dari 130 juta rupiah. Dalam pemeriksaan laboratorium ternyata isteri saya juga sudah menderita diabetes walaupun belum terlalu tinggi gula darahnya.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di rumah sakit ini ialah rekreasi bagi pasien dan penjaganya pada hari-hari tertentu. Dua hari sebelum kegiatan dilaksanakan diadakan pendaftaran bagi pasien yang mau ikut ( tentunya atas izin dokter ) dan penjaganya, tempat yang akan dituju juga disebarkan lewat papan pengumuman. Tempat-tempat yang dituju adalah mall-mal , museum , kuil-kuil , istana-istana kuno atau tempat-tempat tujuan wisata lainnya di kota Guangzhou. Pada rekreasi yang diadakan pada kunjungan kami yang pertama kebetulan anak yang kuliah di Jepang datang berkunjung, sehingga diapun dapat ikut bersama. Yang dikunjungi adalah pusat perbelanjaan …………….terbesar di Guangzhou. Disini kami berkeliling melihat-lihat barang yang dijual di kios-kios pada lantai sat u dan dua .Harganya lebih murah disbanding harga-harga di Indonesia.Di tempat ini juga terdapat penjual Fizza hut yang merupakan makanan kegemaran  isteriku. Kami menyempatkan diri untuk makan siang disini karena dari daftar menunya kami percaya bahwa makanannya cukup halal untuk kami makan. Tidak jauh dari pusat perbelanjaan itu ternyata terdapat juga Carrefour yang penampilannya tidak Jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Rupanya perusahaan-perusahaan kelas dunia dari benua Eropah itu juga telah merambah jauh ke daratan Cina.Di kota ini cukup banyak ritel-ritel perusahaan Carrepour, Fizza Hut, KFC dan perusahaan barat lainnya seperti Macdonald, Fizza Papa John dan lain-lain. Kelihatannya situasi kota hampir sama saja dengan kota-kota yang ada di Indonesia atau kota-kota yang ada di Eropa.
Setelah 24 hari tinggal di rumah sakit  maka kami diizinkan untuk pulang ke Indonesia dengan ketentuan balik lagi dua minggu kemudian.
Kedatangan yang kedua tidak terlalu berbeda. Kami mengurus visa untuk dua kali berkunjung (doble visit ). Pembayaran agak lebih murah dibanding kalau visa untuk kunjungan sekali. Kala itu tanggal  25 januari  2012 kami berangkat dengan pesawat Garuda karena Batavia Airlines belum menerbangkan pesawatnya ke Guangzhou berhubung pegawainya masih  libur tahun baru Cina. Pengobatan berjalan terus, isteri saya harus dijero dan dikemo termasuk dipasangi lagi 20 partikel karena ternyata muncul lagi tumor baru didekat tumor yang sudah dipasangi partikel. Hilang semangat saya ketika dokter menyatakan itu dalam konsultasi awal setelah diadakan pemeriksaan lengkap bahwa harus dipasangi lagi partikel 20 biji partikel dengan  biaya lebih dari 20 juta rupiah, disamping biaya jero dan kemo yang lebih dari 21 juta  dalam rupiah. Sudah menjadi ketentuan disini bahwa sebelum pengobatan dilanjutkan diadakan konsultasi awal utamanya tentang biaya, kalau ybs mampu menanggung biayanya pengobatan dilanjutkan. Kalau tidak yah bersiap-siap kembali tanpa diobati. Yang cukup mengejutkan karena dokter menemukan bahwa ada gejala bahwa kanker sudah menjalar ke bagian hati. “ Tapi itu belum pasti karena masih meragukan, jadi belum dilakukan pengobatan kearah situ “ kata dokter sedikit menghibur Saya menyetujui saja biaya yang disebutkan sehingga biaya pada kedatangan kedua ini hampir 100 juta rupiah. Pengobatan kali kedua ini dijalani hanya 12 hari. Tanggal 7 – 2 – 2012 kami balik lagi ke Jakarta untuk selanjutnya ke Makassar.
Tiba di Makassar kembali lagi memutar  otak untuk mendapatkan dana yang akan dipakai pada kedatangan ketiga. Terfikir untuk menjual lagi mobil Avansa yang merupakan mobil andalan kami, guna memenuhi kebutuhan yang diperkirakan sekitar 100 juta lagi. “ Jangan dijual lagi mobil kita, itukan tinggal satu-satunya mobil yang kita miliki , apa mau jalan kaki setiap hari ? dan itukan mobil si Fitti?. Malu  kita kepada tetangga dan orang-orang sekitar”. Kata isteriku keberatan, walaupun si Fitti putri kami yang belajar di Jepang itu sudah memberi sinyal persetujuan  untuk mengorbankan mobil yang telah dipakainya sehari-hari pergi member kuliah dulu sebelum ke Jepang. “ Saya kan masih dua tahun lagi di Jepang, mungkin kalau pulang siapa tahu bisa membeli mobil yang lain lagi” kata  Fitti pada salah satu pembicaraan telpon denganku. Tidak putus harapan, saya hubungi si Fadli anak yang di Oman tentang persoalan dana ini. “Begini pak, kalau ada dana yang bisa dipakai dulu dan bisa dibayar perbulan lebih baik itu yang diurus, nanti saya tambah uang belanja bulanan untuk menutupinya” katanya dari balik telpon. Memang setiap bulan dia mengirimkan ibunya uang belanja bulanan minimal satu juta. Teringatlah saya bahwa pensiunan dapat mengurus kredit dari bank yang bisa dibayar perbulan selama beberapa tahun. Sebenarnya Kartu Tanda Pensiun dan SK asli pensiunku dan tanda pensiun serta SK asli isteriku masih tersimpan di bank sebagai jaminan  karena kami telah mengambil pinjaman bank sekitar dua tahun yang lalu ketika membeli mobil Avansa itu. Tetapi saya teringat bahwa pinjaman di bank biasanya bisa diperbaharui lagi kalau kita membutuhkan dana lagi. Singkat ceritera saya mengurus pembaharuan dana pinjaman di BRI  dan isteri di Bank BPD sesuai tempat penerimaan pensiun masing-masing sehingga bisa mendapatkan dana lebih dari 70 juta rupiah ditambah dana tambahan dari penjualan tanah kapling ibu mertua sekitar 30 juta rupiah, terkumpullah dana lebih dari 100 juta rupiah dalam buku tabungan BNI.
Pengalaman kami dalam menabung di bank sangat mudah untuk mengambilnya kembali melalui ATM dimana saja termasuk di Cina walaupun disana yang tertarik adalah mata uang yuan sehingga tidak perlu membawa uang kontan dalam jumlah besar untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Tanggal  17 Pebruari 2012  berangkat lagi ke Jakarta dan seterusnya menuju Guangzou dengan Batavia airlines. Perjalanan tidak mengalami hambatan sama sekali karena sudah untuk ketiga kalinya kami ke berobat kesini.
 Pemeriksaan awal berlangsung lagi yang dilanjutkan dengan konsultasi. Dalam konsultasi,  dokter menyampaikan bahwa ternyata obat kemo  yang diberikan pada dua kali kunjungan yang lalu tidak begitu efektif sehingga harus diganti dengan obat kemo yang lebih modern lagi. “ Berapa biaya yang harus disiapkan” Tanya saya ketika itu. “ KIra-kira 120 juta lagi termasuk biaya rumah sakit” kata penerjamah menyampaikan apa yang disampaikan oleh dokter. Seperti disambar gledek saya waktu itu, menging at persediaan uang kami tidak mencukupi jumlahnya. “Apakah tidak bisa dilanjutkan saja seperti yang lalu, karena persediaan dana kami tidak cukup dan apakah dengan obat yang modern itu dapat menjamin penyakit isteri saya bisa sembuh? “ Tanya saya. Dari hasil pembicaraan itu bisa disimpul an bahwa obat yang dulu itu dapat saja dilanjutkan hanya efeknya tidak terlalu nampak kemajuannya dan penggunaan obat yang baru juga dokter tidak bisa menjamin 100 % karena nanti dilihat hasilnya  setelah dicek kembali setelah digunakan. “ Saya minta pertimbangan isteri dan anak lebih dahulu sebelum memberi keputusan. Insya Allah besok pagi saya sampaikan” kata saya mengakhiri konsultasi.
Hasil pembicaraan dengan dokter saya sampaikan kepada isteri  dan  kepada anak yang tertua malam itu juga dan kami mengambil keputusan untuk melanjutkan pengobatan yang lalu saja karena dokter juga  tidak memberikan keyakinan sepenuhnya terhadap keberhasilan yang dicapai jika menggunakan obet modern yang jauh lebih mahal.
Hal ini mengingatkan kepada pengalaman salah seorang pasien dari Surabaya, seorang kapten angkatan Laut. Dia menceriterakan bahwa dia menderita kanker kolon dan telah dirawat lebih dahulu dari isteri saya. Pada pertemuan pertama dia sudah menyampaikan kepada dokter agar  diberikan obat yang terbaik karena dia tidak bisa terlalu lama pulang balik. “Saya kesini dengan biaya pas-pas an , itupun diperoleh dengan menjual rumah yang ada di Jakarta. Jadi tolonglah diberikan obat yang terbaik walaupun agak mahal” katanya kepada dokter waktu konsultasi yang pertama. Tetapi setelah pulang balik selama tiga kali ternyata pada kunjungan yang keempat hasil USG menunjukkan bahwa tumor kolon nya hanya turun 0,5 cm dan harus mengalami pemasangan partikel 40 buah. “ Saya kesini bukan memakai daun mangga tetapi uang, dokter, sudah habis-habisan ini.  Kenapa tidak dari awal dilaksanakan seperti itu ? “ katanya. Isteri kapten itu seorang dokter juga di Indonesia yang tahu juga perkembangan pengobatan suaminya. Dia menceriterakan bahwa mungkin dia dan suaminya akan pulang saja. “ Bagaimana pengalaman ibu setelah dipasangi partikel ?” , dia bertanya kepada isteriku. “Menurut pengalaman saya, pemasangan partikel cukup berhasil karena dua tumor yang berada disekitar leher itu sudah hilang, walaupun tangan kanan saya ini belum mengecil “ kata isteriku sambil memperlihatkan lengannya kepada isteri sang kapten. Ternyata keterangan ini dapat mengubah fikiran mereka karena sang kapten bersedia untuk dipasangi partikel.
Sudah menjadi kebiasaan, rumah sakit merayakan ulang tahun pasien yang sementara dirawat. Isteri saya lahir tanggal 22 Pebruari 1952 sehingga pada tanggal itu ulang tahunnya dirayakan  dengan pemotongan kue tar yang disiapkan oleh rumah sakit dan dihadiri oleh beberapa dokter dan perawat di dalam kamar 833 yang ditempati. Surprise juga karena selama ini ulang tahun isteriku tidak pernah dirayakan. Ulang tahun yang ke 60 sangat berkesan apalagi dirayakan di luar negeri.    
Pengobatan ketiga tidak berlangsung lama karena seminggu kemudian sehari sesudah dikemo terakhir kami sudah pamit untuk kembali ke Indonesia. Dalam keterangan pengobatan yang diberikan oleh dokter, kami masih disuruh datang lagi dua minggu kemudian untuk melanjutkan pengobatan, tapi kami sudah sepakat  mengakhiri saja pengobatan di rumah sakit modern Guangzhou karena ketidak mampuan biaya dan merasa bahwa pengobatan itu tidak terlalu membawa hasil yang maksimal.
Menurut aturan rumah sakit ini, bagi penjaga pasien yang sudah datang dua kali diberikan kesempatan mengecek lengkap juga kesehatannya. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan ikut mendaftar untuk diperiksa. Hasil  pemeriksaan lengkap tidak bisa dilihat hasilnya karena pada hari minggu dua hari setelah  pemeriksaan kami telah menuju ke air port Baiyun untuk kembali ke tanah air. Isteriku naik pesawat dengan bantuan kursi roda, kelihatannya dia amat lemah karena pengaruh obat kemo masih sangat terasa. Pesawatpun tinggal landas membubung tinggi meninggalkan tanah Cina, meninggalkan pula segala harapan yang begitu menggelora namun tidak tercapai. Selamat tinggal kota Guangzhou yang penuh kenangan.

2 komentar:

  1. jadi bagaimana sekarang kondisi ibunya? apakah sudah sembuh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamu'alaikum. Salam kenal pak.

      Saya baru sehari pulang dari RSK Dharmais Setelah pengangkatan payudara kiri dan kelenjar getah bening di ketiak. Saya mendobeli pengobatan saya dengan herbal Cina juga, tapi saya tidak jauh-jauh ke Guangzhou. Sinshe saya di Jawa saja tapi berdarah Cina Guangzhou. Herbal itu dimakan, kemudian pasien ditotok syaraf tiap minggu. Alhamdulillah kanker saya tidak menyebar selain ke kelenjar getah bening ketiak, dan bisa ditahan di stadium III-B meski tumornya yang sudah sangat besar itu pecah. Kata dokter saya kemarin, kanker saya sangat ganas tidak bisa terangkat semua, sisanya 2% lagi akan ditembak dengan radiasi atau kemoterapi lanjutan lagi setahun.

      Saya optimis akan sembuh di DHARMAIS saja dikolaborasikan dengan pengobatan sinshe. Salam sejahtera!

      Hapus